5 Langkah Ternak Lele dengan Kolam Bioflok

Diposting pada

Bagi sahabat tani yang berprofesi menjadi petani lele, maka kemungkinan mendengar kolam bioflok sudah menjadi hal yang familiar. Namun, bagi sahabat tani yang tidak pernah terjun dalam dunia perkolaman dan peternakan lele, maka istilah ini sudah pasti asing di telinga sahabat tani. Lantas sebenarnya apa yang dimaksud dengan bioflok? Apa hubungannya kolam ini dengan ternak lele?

Kolam bioflok sendiri memiliki definisi sebagai jenis kolam yang digunakan untuk proses ternak lele dengan menggunakan teknologi bioflok. Artinya, teknologi ini lebih mengoptimalkan kualitas air kolam yang akan dijadikan sebagai tempat ternak lele tersebut. Saat ini, teknologi bioflok menjadi salah satu metode yang dipakai kebanyakan peternak lele dengan harapan dapat mengoptimalkan pertumbuhan lele.

Kolam Bioflok
Google.com

Mengapa Menggunakan Teknik Kolam Bioflok?

Seperti yang telah disebutkan sekilas di atas bahwa teknik bioflok, saat ini banyak sekali digunakan atau diimplementasikan oleh para peternak lele. Lantas, mengapa banyak sekali yang menggunakan teknik bioflok ini? jawaban mendasarnya adalah karena teknik ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengurangi kotoran lele yang mencemari air tempatnya hidup.

Sahabat tani tentu tahu bahwa lele juga merupakan jenis ikan yang mengeluarkan feses setiap hari. Dengan jumlah feses ikan lele yang jumlahnya lebih satu ini, maka tentu saja feses-feses tersebut dalam waktu dekat akan mencemari air yang menjadi tempat hidup lele itu sendiri. Saat tempat hidup lele sendiri saja tercemar, maka tentu saja hal ini akan mengurangi keoptimalan pertumbuhan lele.

Baca Juga :  8 Langkah Budidaya Ikan Air Payau bagi Pemula

Hal itu karena dengan memanfaatkan mikroorganisme, maka diharapkan mikroorganisme akan membantu mengurangi jumlah feses yang ada dalam air tersebut lantas tidak mengganggu pertumbuhan lele. Namun, ada beberapa orang yang kontra dengan hal tersebut.

Beberapa orang menganggap bahwa dengan memanfaatkan mikroorganisme hanya dalam air tidak akan cukup untuk mengurangi feses lele yang jumlahnya terlampau banyak dalam waktu yang terlampau cepat. Hal itu karena masih dibutuhkan fungsi bakteri di sini. Jenis bakteri yang dipercaya dapat membantu mengurangi feses lele ini adalah nitrobacter dan nitrosomonas.

Lantas, apakah selama ini teknik bioflok tidak menggunakan bakteri dalam implementasinya? Ya, memang teknik ini menggunakan bakteri. Namun, jenis bakteri yang dipakainya kurang optimal, yakni menggunakan bakteri bacillus.

Bakteri ini dapat memproduksi flok yang kemungkinan bisa menjadi makanan bagi lele. Namun, hal ini tidak menjamin bahwa lele akan selalu memakan flok tersebut. Jika lele tidak menjamin untuk mengonsumsi flok, maka yang terjadi justru flok yang semakin bertumpuk dan akan mencemari kolam juga pada akhirnya.

Kolam terpal biflok
Sumber : Bulelengkab

Bagaimana Implementasi Ternak Lele dengan Bioflok?

Meskipun ada beberapa pro dan kontra terkait dengan penerapan teknik bioflok ini, namun tidak sedikit juga petani lele yang sukses melakukan usahanya dengan memanfaatkan kolam bioflok ini. Sehingga, tidak ada salahnya jika Anda mencoba menggunakan teknik yang satu ini. Lantas, tahukah Anda bagaimana cara mengimplementasikan teknik bioflok? Di bawah bisa Anda simak beberapa tahapannya:

Menyiapkan Media Kolamnya

Hal pertama yang harus sahabat tani lakukan untuk implementasi teknik bioflok, tentunya adalah dengan menyiapkan media kolam yang akan dijadikan tempat tumbuhnya lele. Sahabat tani bisa memilih untuk menggunakan bentuk kolam persegi maupun bentuk kolam bundar. Namun, kebanyakan pengguna teknik bioflok menggunakan bentuk kolam bundar.

Mengapa demikian? Para pengguna kolam bundar mempercayai bahwa bentuk kolam bundar akan menambah kesan indah dan rapi pada kolam. Selain itu, dengan kolam yang berbentuk bundar akan memudahkan proses irigasi yang juga bisa menjadi cara mudah untuk mengeluarkan kotoran lele dalam waktu singkat dan dengan kadar kotoran yang keluar cukup banyak.

Namun, satu hal yang perlu sahabat tani ingat, tidak ada pengaruh antara pertumbuhan lele dengan bentuk kolam yang sahabat tani gunakan. Sehingga, sahabat tani tetap bebas ingin menggunakan bentuk kolam bundar maupun persegi.

Baca Juga : Cara Budidaya Sidat yang Mudah, Cepat Panen

Menyiapkan Media Air Bioflok

Setelah kolam lele siap, maka selanjutnya yang harus sahabat tani lakukan adalah menyiapkan media airnya. Untuk membuat air bioflok ini, sahabat tani akan membutuhkan beberapa bahan khusus, di antaranya adalah garam kasar sebanyak 1kg untuk per m3, dolomit sebanyak 50 gram untuk per m3, molase sebanyak 100ml per m3 atau Anda bisa menggunakan gula pasir sebanyak 75 gram untuk per m3.

Terakhir, siapkan juga probiotik sebanyak 10 gram untuk per m3. Beberapa bahan yang disebutkan itu memang ditulis untuk kadar kolam per meter kubik. Namun, untuk banyaknya jumlah ukuran bahan yang harus dilibatkan akan bergantung kembali pada luas atau besarnya kolam yang disiapkan.

Untuk prosesnya, bahan pertama yang harus sahabat tani proses adalah garam kasar yang harus sahabat tani masukkan dalam jaring seser khusus untuk ikan. Setelah garam telah tersebar merata pada jaring, selanjutnya sahabat tani bisa memasukkan jaring tersebut dalam kolam hingga garam larut dalam air.

Langkah selanjutnya adalah mencampur dolomit dengan air dalam wadah hingga tercampur dengan sempurna, lantas memasukkannya ke dalam kolam. Kemudian masuk pada proses olah molasses yang telebih dahulu bisa sahabat tani encerkan dengan campuran air, setelahnya memasukkan campuran tersebut ke dalam kolam.

Begitu pula dengan tahapan akhir, yakni dengan bahan probiotik yang bisa sahabat tani encerkan lebih dulu dengan air. Pada tahapan ini akan terjadi penyebaran ke seluruh permukaan air dalam kolam bioflok tersebut.

Pengawasan Perkembangan Bioflok

Pada tahapan awal, perkembangan terbentuknya bioflok bisa sahabat tani lakukan dengan melihat perubahan warna air. Air bioflok yang telah ditumbuhi banyak fitoplankton akan memiliki warna hijau. Namun, terbentuknya bioflok secara sempurna adalah ketika warna airnya menjadi coklat tua kehijauan.

Untuk lebih, pastinya sahabat tani bisa melakukan pengawasan biofloknya dengan memanfaatkan mikroskop. Dengan begitu, akan tampak apakah flok yang tumbuh aktif atau tidak. Dalam proses pengawasan ini, sahabat tani juga harus memerhatikan keseimbangan volume flok yang disesuaikan dengan kapasitas jumlah lele. Pengukuran volume bioflok bisa memanfaatkan alat imhoff cone.

Proses Memasukkan Benih Lele

Setelah bioflok terbentuk dengan sempurna, maka tahapan selanjutnya yang bisa Anda mulai lakukan adalah dengan memasukkan benih lele ke dalam kolam. Namun, perlu Anda ingat untuk memasukkan benih, sebaiknya masukkan beserta wadah dari benih tersebut. Mengapa demikian? Hal ini mengingat bahwa benih lele membutuhkan adaptasi terlebih dahulu dengan keadaan dalam kolam bioflok ini.

Baca Juga : Panduan Budidaya Ikan Kerapu Lengkap Hingga Bisa Panen Besar

Memberi Pakan Lele

Proses pemberian pakan ini juga termasuk penting untuk sahabat tani perhatikan. Pasalnya, pemberian pakan pada lele tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Setidaknya 3% dari total biomassa ikan lele. Pemberian pakan lele secara berlebihan pada lele akan membuat pakan menjadi tidak termakan oleh lele dan justru akan mencemari kolam yang berdampak pada kualitas air bioflok.

Mengganti Air Bioflok

Pada status ternak lele dengan teknik bioflok pergantian air kolam lele ini, dilakukan hanya jika ada 3 kondisi yakni jika air telah bau, volume bioflok terlalu berlebihan, dan air kolam mengalami pengurangan kadarnya karena adanya proses penguapan air.

Panen

Proses terakhir adalah panen. Ikan lele bisa dipanen jika telah memiliki ukuran yang cukup pantas untuk dijual.

Penjelasan terkait teknik ternak lele menggunakan media kolam bioflok di atas bisa menjadi referensi pembelajaran bagi sahabat tani yang memang ingin menerapkan teknik bioflok. Bagaimana? Tertarik untuk menggunakan kolam jenis ini untuk ternak lele Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *